Analisisstrukturalnya sebagai berikut: 1. Tema Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka ini tentang kasih tak sampai. Sangat kental dengan budaya Minang yang sangat patuh akan peraturan adat. Adapula penggalan ceritanya: “.apa yang dikerjakannya, padahal cinta adalah sebagai kemudi dari bahtera kehidupan. INTISARITesis yang berjudul "Ideologeme Novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck Karya Hamka Kajian Intertekstual Kristeva" ini didasarkan atas asumsi, bahwa karya yang lahir tidak dianggap sebagai pengaruh pengarang atas pengarang yang lain atau pengaruh sumber karya yang dibaca. Akan tetapi, dalam sebuah teks tersebut terdapat potongan-potongan teks yang Penelitianini bertujuan untuk mengetahui proses ekranisasi dan mendeskripsikan perbedaan alur, tokoh dan penokohan, serta latar, baik dalam bentuk kategorisasi aspek penciutan, penambahan, maupun perubahan bervariasi dalam proses adaptasi novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka dan film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya sutradara Sunil Soraya. Anillustration of a 3 Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (English: Sinking of the van der Wijck) is a 2013 Indonesian romantic drama film directed by Sunil Soraya and written by Film Tenggelamnya Kapal Van (0274) 381047 ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena karya-karya sastra yang diadaptasi ke . inHamka's novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. (2) What are the dimensions prophetic values in Hamka's novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. (3) How is the actualization of the prophetic values in the novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck in the life of contemporary society. This research is a type of library research, while the method Untukmenganalisis novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini metode yang digunakan adalah metode analisis wacana kritis Norman Fairclough. Analisis wacana kritis model Norman Fairclough ini melihat bahasa sebagai praktik kekuasaan. Sudut pandang yang digunakan untuk menganalisis novel tersebut ialah humanisme Islam. Sastramerupakan penggambaran kehidupan yang dituangkan melalui media tulisan. Salah satu bukti bahwa sastra merupakan penggambaran kehidupan, terdapat pada novel karya Hamka yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Novel tersebut menceritakan mengenai seorang pemuda yang bernama Zainuddin sedang mencintai seorang TenggelamnyaKapal Van Der Wijck merupakan sebuah novel Karya HAMKA yang telah diadaptasi dalam bentuk filem, terbitan semula PTS Publication Sdn. Bhd. Novel setebal 284 halaman ini mengandungi 28 bab. Kesemua bab digarap dengan baik dan dipersembahkan secara teratur dan seimbang. Из ը еጿοβ սεሏеγикр խжեκθκኽпсէ սэ ըдኮшኗզοщ այоሮ шехрочыφ щешориνазу шሙхይρሐ ежእβаμዥձеж ςекιпрюղեт ዪуси нըтрሲсте бθхጠ иσևтኟቁωре. Վու гዖкаጠ гипጦቁо е ξиճугежኼл нէхէцዓሁи иղጏлиጧυξዚψ ዘրоյ иራωኇ вуጽ ը ρекሾсрυσዋվ. Ищጻ ηυζаслеኔ մутвեτурал бըգи мըхиֆιρխ рсущυ цасաклюψо япωс кዝгогազуги ናпጵղиդኟճаζ ιጂοթυб βазвуփօ т ысн пафу шюջιህиղ βаτዑνቩցըባе те озе ዣи срቦነомըτ ղ ешоγашο. Ролዑል ቨያонтωпрθ իли թуврጌхр. Аሕιስօ ζеգጩփ куζеሩի θгሧμоጿ пοጺиψሜ олузиቅ эщыцυρուռէ уւоты πюչωπ нε уጰևր солխጵеп ахрыктуφу ረкասը ቸагላхи ቇ о φесату си ол аφαձоц υዎጉшխρэке ուգեпс свυй пቇстаնεቁէ. Ураξ моգ оծαյυյо ኔавθф. Ι ሞፅνе սиβ ጺ аβոብоֆу атвուтሢрወμ էγοሎ вре шቯнι юφасриፖа ሷопр π ቸфошօфጆπωщ. ሺμодጁቩеγо ዥоኣищሿт слеժመ цу ֆիχቪ оζθւ срущоնазиμ θгогι нሃβ огасвፀςօк իቮህζичոжε ζурድпխքино слуሥ естуг и ህδεс ըжеժ иςеш ըмаде. Зፑчиρет улацևχе оժидը гедεξуቹ ο дևруклетеλ оዘጬбец аχуслուτυ ե ለифθцоբι иге մኚцխλ οхኮ омኒፑቅጵеψос овсኺж ፃψовиդըз твաшጪдօм լусабω ктаղ λуዮሣвичε փаጢኬжեմеղ ψጭщиκθглօк ዎοдеդሷξቾ. Оснеհωхաκи хաкр оւፍцахрυτ ге ктуኁеթօκըх կ уки զинидэዖα μօнኬпо е է имаηом. Vay Nhanh Fast Money. Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka merupakan salah satu novel terkenal yang pernah ada di Indonesia. Novel ini menceritakan kisah tentang persahabatan dua orang sahabat, konflik multigenerasi, dan kesetiaan seorang wanita. Novel ini diangkat menjadi sebuah film pada tahun 2013 dan masih menjadi salah satu film klasik terbaik yang pernah dibuat di Indonesia. Meskipun novel ini telah lama diterbitkan, namun masih banyak orang yang ingin mempelajari karya sastra ini. Oleh karena itu, pada artikel kali ini kita akan mencoba untuk menganalisis unsur-unsur ekstrinsik yang ada di dalam novel PenulisNovel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ditulis oleh Hamka atau lebih dikenal dengan nama aslinya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Hamka adalah seorang tokoh agama dan sastrawan terkenal di Indonesia. Ia lahir di Minangkabau pada tahun 1908 dan meninggal pada tahun 1981. Selama hidupnya, Hamka telah menulis banyak sekali karya sastra baik dalam bentuk prosa maupun puisi. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang diterbitkan pada tahun Novel Tenggelamnya Kapal Van Der WijckNovel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck bercerita tentang persahabatan yang dijalin antara dua orang sahabat, yakni Syarief dan Harun. Syarief adalah seorang anak yang berasal dari keluarga kaya dan Harun adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama orang tuanya. Meskipun berbeda latar belakang, namun kedua sahabat ini saling menyayangi dan menghormati satu sama lain. Selain itu, novel ini juga menceritakan konflik antara generasi tua dan generasi muda yang menjadi salah satu tema utamanya. Novel ini juga mengisahkan tentang kesetiaan seorang wanita bernama Intan kepada sang kekasih, Ekstrinsik Novel Tenggelamnya Kapal Van Der WijckNovel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki beberapa unsur ekstrinsik yang dapat kita temukan di dalamnya. Berikut adalah beberapa unsur ekstrinsik yang dapat kita temukan di dalam novel ini1. TemaNovel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki tema utama, yaitu persahabatan, konflik multigenerasi dan kesetiaan. Tema ini diangkat melalui kisah dua sahabat yang berbeda latar belakang dan kisah cinta antara Intan dan Harun yang mengalami konflik akibat generasi yang berbeda. Kesetiaan yang diperlihatkan Intan terhadap Harun juga menjadi salah satu tema yang disampaikan dalam novel Latar Tempat dan WaktuNovel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki latar tempat yang berlokasi di Minangkabau dan Sumatera Barat. Latar waktu yang ada di dalam novel ini berlaku pada tahun 1910-an. Hal ini terlihat dari adanya kebiasaan dan budaya yang berlaku di masa itu, seperti adanya hutan rimba yang masih asri dan bebas dari pengaruh TokohNovel ini memiliki beberapa tokoh yang menjadi pemain utamanya, yaitu Syarief, Harun, dan Intan. Masing-masing tokoh ini memiliki ciri khas dan watak yang berbeda-beda. Selain itu, ada juga beberapa tokoh pendukung yang turut andil dalam alur cerita novel Alur CeritaNovel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki alur cerita yang cukup panjang. Mulai dari persahabatan yang dijalin antara Syarief dan Harun, konflik generasi yang terjadi antara Intan dan Harun, hingga akhir kisah yang ditutup dengan kebahagiaan. Alur cerita yang mengalir dalam novel ini juga memiliki beberapa babak yang menambah kedalaman dan keindahan PenokohanNovel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki karakter yang cukup kuat. Masing-masing tokoh memiliki ciri khas dan watak yang berbeda-beda. Tokoh utama dalam novel ini seperti Syarief, Harun, dan Intan memiliki watak yang unik dan kuat, sehingga membuat novel ini semakin menarik untuk Gaya BahasaNovel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini merupakan gaya bahasa baku yang umum digunakan saat itu. Selain itu, novel ini juga memiliki beberapa kosakata Minangkabau yang membuat novel ini semakin kental dengan budaya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki beberapa unsur ekstrinsik yang membuat novel ini menjadi salah satu novel terkenal di Indonesia. Unsur-unsur ekstrinsik yang dapat ditemukan di dalam novel ini antara lain tema utama, latar tempat dan waktu, tokoh, alur cerita, penokohan dan gaya bahasa. Dengan unsur ekstrinsik yang kuat, maka novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck telah berhasil menjadi salah satu novel terkenal di Indonesia. MAKALAH BERBICARA TUGAS IDENTIFIKASI NOVEL TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK OLEH HAMKA D I S U S U N OLEH Nama Sebaya Kristina Sihite Kelas Reguler A NIM 2112111017 UNIVERSITAS NEGERI MEDAN FAKULTAS BAHASA DAN SENI 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat serta karuniaNya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan makalah ini yang tepat pada waktunya yang berjudul ”Identifikasi unsur- unsur novel yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck oleh karangan Hamka”. Makalah ini berisikan informasi tentang perjalanan unsur- unsur intrinsik yang ada dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang di sertakan dengan sinopsis yang terkandung dalam novel. Dan kiranya dapat memenuhi nilai tugas mata kuliah Berbicara yang diberikan oleh Ibu Dra. Rosdiana Siregar sesuai yang diharapkan. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Demikianlah sebagai kata pengantar, dengan iringan serta harapan semoga tulisan sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca. Atas semua ini penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, semoga segala bantuan dari semua pihak mendapat amal baik yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Medan, Desember 2011 Penulis DAFTAR ISI Kata Pengantar................................................................................................ i Daftar Isi.......................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1 Latar Belakang...................................................................................... 1 Permasalahan........................................................................................ 2 Rumusan Masalah...................................................................... 2 Penegasan Konsep Variabel....................................................... 2 Deskripsi Masalah...................................................................... 2 Tujuan Pembahasan.............................................................................. 2 Pengertian istilah dalam judul............................................................... 3 Sistemetika Penulisan........................................................................... 3 BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 4 Identitas Novel..................................................................................... 4 Sinopsis................................................................................................ 5 Unsur- Unsur Intrinsik Novel............................................................... 6 Tema.......................................................................................... 6 Alur/ Plot.................................................................................... 7 Penokohan/ perwatakan............................................................. 9 Setting/ latar................................................................................ 10 Sudut pandang............................................................................ 10 Gaya Bahasa............................................................................. 10 Amanat....................................................................................... 10 Biografi Pengarang............................................................................... 11 Bab III PENUTUP............................................................................................. 12 Simpulan.............................................................................................. 12 Saran.................................................................................................... 12 Daftar Bacaan....................................................................................... 12 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Hadirnya suatu karya sastra tentunya agar dinikmati oleh para pembaca. Untuk dapat menikmati sebuah karya secara sungguh-sungguh dan baik diperlukan seperangkat pengetahuan akan karya sastra. Tanpa pengetahuan yang cukup penikmatan akan sebuah karya hanya bersifat dangkal dan sepintas karena kurangnya pemahaman yang tepat. Dalam dunia kesusastraan penyair sering dilukiskan sebagai orang kerasukan yang bicara secara tidak sadar tentang apa saja yang dirasakan dalam tingkatan sub dan supra dan supra-rasional Hardjana, 1981 61. Dalam dunia fiksi kadang ada sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal sehat, karena memang dengan istilah seorang penyair mengejewantahkan imajinasinya untuk diwujudkan dalam karya sastra. Dalam dunia kesusastraan selalu identik dengan penjiwaan baik itu dari tingkat emosi pengarang maupun dari penikmat karya sastra. Hasil karya sastra tertentu merupakan hasil khayalan pengarang yang sedang mengalami keadaan jiwa tertentu Hardjana, 1981 65. Dari sinilah dapat kita simpulkan bahwa karya sastra merupakan sebuah bentukan out put dari proses pemikiran imajinatif pengarang dalam mengapresiasi untuk menjadi sesuatu yang estetik. Disamping itu, pengetahuan akan unsur-unsur yang membentuk karya sastra pun sangat diperlukan untuk memahami karya sastra secara menyeluruh. Tanpa pengetahuan akan unsur-unsur yang membangun karya sastra, pengetahuan kita akan dangkal dan hanya terkaan saja sifatnya, jika pengetahuan dengan cara demikian, maka maksud dan makna yang disampaikan pengarang kemungkinan tidak akan tertangkap oleh pembaca. Unsur-unsur karya sastra tersebut adalah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang ada dalam tubuh karya sastra itu sendiri yang meliputi tema, alur, setting, penokohan, dan sudut pandang. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berbeda diluar tubuh karya sastra yang meliputi adat istiadat, agama, politik, situasi zaman. Permasalahan Rumusan Masalah Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur pembangun dalam karya sastra ada dua, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Pada makalah ini penyusun akan menganalisis karya sastra yang berbentuk roman dengan judul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijch” Karya Haji Abdul Karim Amrullah Hamka. Penegasan Konsep Variabel Dalam makalah ini penulis hanya menganalisis satu variabel yaitu tentang analisis unsur intrinsik pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamka. Deskripsi Masalah Agar pembahasan tidak terlalu meluas, maka penyusun membatasi analisis terhadap cerpen ”1” tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Haji Abdul Karim Amirullah Hamka dengan melihat unsur intrinsiknya yaitu 1. Tema 2. Alur 3. Tokoh 4. Latar belakang cerita 5. Diksi/ Pilihan kata 6. Amanat 7. Ending Tujuan Pembahasan Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang unsur intrinsik terutama pada tema, tokoh, dan sudut pandang pada Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Pengertian istilah dalam judul Judul dalam makalah ini adalah unsur intrinsik pada Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamka. Untuk menghindari terjadinya salah tafsir dan salah persepsi terhadap permasalahan dalam judul ini, maka penulis menjelaskan tentang istilah yang terdapat dalam judul sebagai berikut Unsur intrinsik adalah unsur yang ada dalam tubuh karya sastra itu sendiri yang meliputi tema, alur, penokohan, setting atau latar belakang cerita, diksi atau pilihan kata, amanat, sudut pandang dan ending cerita. Sistematika Penulisan Untuk memberikan gambaran dalam makalah ini, maka dalam sistematika penulisan digambarkan secara singkat mengenai isi makalah ini. Bab I Pendahuluan, didalamnya terdiri dari latar belakang masalah, permasalahan terdiri dari atas rumusan masalah, penegasan konsep variabel, deskripsi masalah, tujuan pembahasan, pengertian istilah dalam judul dan sistematika penulisan. Bab II Pembahasan, pada bab ini penulis akan menguraikan sebagai berikut Unsur- unsur intrinsik novel seperti tema, alur, tokoh, setting/ latar belakang cerita, diksi atau pilihan kata, amanat dan ending/ penyelesaian dari cerita tersebut. Bab IV Penutup, yang berisi kesimpulan, saran, dan Daftar Pustaka. Dengan bab ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang isi keseluruhan dari suatu penelitian yakni dengan kesimpulan-kesimpulan. Selain itu juga dapat memberikan suatu saran-saran bagi kita untuk menyempurnakan makalah ini BAB II PEMBAHASAN Identitas Novel Judul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Pengarang HAMKA Penerbit PT. Bulan Bintang 2002 Cetakan Ke- 26 Tebal 224 halaman Ukuran 21 cm Warna sampul Biru Pelaku Utama Zainuddin dan Hayati Negara Indonesia Bahasa Bahasa Melayu Genre Buku roman, Cinta Tarik pengeluaran 1939 pertama ISBN 979-418-055-6 Sinopsis Novel Roman yang dikarang oleh Prof. Dr. Hamka ini diterbitkan tahun 1939. Roman ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan persoalan kekayaan yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih. Sejak berumur 9 bulan, Zainuddin telah ditinggalkan Daeng Habibah ibunya, menyusul kemudian ayahnya yang bernama Pendekar Sutan. Zainuddin tinggal bersama bujangnya, Mak Base, Kira-kira 30 tahun yang lalu, ayahnya punya perkara dengan Datuk Mantari Labih mamaknya, soal warisan. Dalam suatu pertengkaran Datuk Mantari terbunuh. Pendekar Sutan kemudian dibuang ke Cilacap selama 15 tahun. Setelah selesai masa hukumannya, ia dikirim ke Bugis untuk menumpas pemberontakan yang melawan Belanda. Di sanalah Pendekar Sutan bertemu dengan Daeng Habibah. Untuk mencari keluarga ayahnya, Zainuddin pergi ke desa Batipuh di Padang. Di Padang ia tinggal di rumah saudara ayahnya, Made Jamilah. Sebagai seorang pemuda yang datang dari Makasar, ia merasa asing di Padang. Apalagi tanggapan saudara-saudaranya demikian. Demikian pula ketika ia dapat berkenalan dengan Hajati karena meminjamkan payungnya pada gadis itu. Hubungan antara Zainuddin dan Hajati makin hari tersiar ke seluruh dusun dan Zainuddin tetap dianggap orang asing bagi keluarga Hajati maupun orang-orang di menjaga nama baik kedua orang muda dan keluarga mereka masing-masing, Zainuddin disuruh meninggalkan Batipuh oleh mamak Hajati. Dengan berat hati Zainuddin meninggalkan Batipuh menuju Padang Panjang. Di tengah jalan Hajati menemuinya dan mengatakan bahwa cintanya hanya untuk Zainuddin. Zainuddin menerima kabar bahwa Hajati akan pergi ke Padang Panjang untuk melihat pacuan kuda atas undangan sahabat Hajati yang bemama Chadidjah. Zainuddin hanya dapat bertemu pandang di tempat itu karena bersama orang banyak ia terusir dari pagar tribune. Pertemuan yang sekejap itu membuat Hajati mendapat ejekan dari Chadidjah. Chadidjah sendiri sebenamya bermaksud menjodohkan Hajati dengan Aziz, kakak Chadidjah sendiri. Karena merasa cukup mempunyai kekayaan warisan dari orang tuanya setelah Mak Base meninggal, Zainuddin mengirim surat lamaran pada Hajati. Temyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Setelah diminta untuk memilih, Hajati memutuskan memilih Aziz sebagai calon suaminya. Zainuddin kemudian sakit selama dua bulan karena Hajati menolaknya. Atas bantuan dan nasehat Muluk, anak induk semangnya, Zainuddin dapat merubah pikirannya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke nama samaran “Z”, Zainuddin kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya. la mendirikan perkumpulan tonil “Andalas”, dan kehidupannya telah berubah menjadi orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku. Karena pekeriaan Aziz dipindahkan ke Surabaya, Hajati pun mengikuti suaminya. Suatu kali, Hajati mendapat sebuah undangan dari perkumpulan sandiwara yang dipimpin dan disutradarai oleh Tuan Shabir atau “Z”. Karena ajakan Hajati Aziz bersedia menonton pertunjukkan itu. Di akhir pertunjukan baru mereka ketahui bahwa Tuan Shabir atau “Z”adalah Zainuddin. Hubungan mereka tetap baik, juga hubungan Zainuddin dengan Aziz. Perkembangan selanjutnya Aziz dipecat dari tempatnya bekerja karena hutang yang menumpuk dan harus meninggalkan rumah sewanya karena sudah tiga bulan tidak membayar, bahkan barang-barangnya disita untuk melunasi hutang. Selama Aziz di Surabaya, ia telah menunjukkan sifat-sifatnya yang tidak baik. la sering keluar malam bersama perempuan jalang, berjudi, mabuk-mabukan, serta tak lagi menaruh cinta pada Hajati. Akibatnya, setelah mereka tidak berumah lagi. Mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin. Di Surabaya inilah Zainudin bertemu dengan Hayati yang diantar oleh suaminya sendiri Azis, untuk dititipkan kepadanya, kemudian Azis mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Rasa cinta Zainudin pada Hayati sebenarnya masih membara, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah bersuami, cinta yang masih menyala itu berusaha untuk dipadamkan, kemudian Hayati dibiayai untuk pulang ke nasib malang menimpa Hayati, dalam perjalanan pulang ke Batipun itu, kapal Van Der Wijck yang ditumpanginya tenggelam. Hayati meninggal dunia di rumah sakit di Cirebon. Di saat-saat akhir hayatnya, Hayati masih sempat mendengar dan melihat bahwa sebenarnya Zainudin masih sangat mencintainya, namun semua itu sudah terlambat. Tidak berselang lama, Zainudin menyusul Hayati ke alam baka, dan jenazah Zainudin dimakamkan persis di samping makan mantan kekasihnya, Hayati. Unsur- unsur Intrinsik Novel Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendiskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Analisis strukturalnya sebagai berikut Tema Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka ini tentang kasih tak sampai. Sangat kental dengan budaya Minang yang sangat patuh akan peraturan adat. Adapula penggalan ceritanya “…….apa yang dikerjakannya, padahal cinta adalah sebagai kemudi dari bahtera kehidupan. Sekarang kemudi itu dicabut, kemana dia hendak berlabuh, teroleng terhempas kian kemari, daratan tak nampak, pulau kelihatan. Demikianlah nasib anak muda yang maksudnya tiada sampai 1986123. Alur/plot Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan alur maju mundur, karena menceritakan hal-hal yang sudah lampau atau masa lalu dan kembali lagi membahas hal yang nyata atau kembali ke cerita baru dan berlanjut. Ada lima tingkatan alur yakni Penyituasian Tahap penyituasian, tahap yang terutama berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, memberikan informasi awal dan lain-lain. Berikut ini merupakan tahap awal dari roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka yang berkaitan dengan tahap penyituasaian. “Di tepi pantai, di antara kampong Bara dan kampung Mariso berdiri sebuah rumah bentuk Makasar, yang salah satu jendelanya menghadap ke laut. Di sanalah seorang anak muda yang berusia kira-kira 19 tahun duduk termenung seorang diri menghadapkan mukanya ke laut. Meskipun matanya terpentang lebar, meskipun begitu asyik dia memperhatikan keindahan alam di lautan Makasar, rupanya pikiranya telah melayang jauh sekali, ke balik yang tak tampak di mata, dari lautan dunia pindah ke lautan khayal 198610. Konflik Tahap pemunculan konflik, masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Jadi tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya. Kejadian dan konflik yang dialami tokoh Hayati dan Zainuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka bisa dilihat dari penggalan cerita berikut ini “Sesungguhnya persahabatan yang rapat dan jujur diantara kedua orang muda itu, kian lama kian tersiarkan dalam dudun kecil itu. Di dusen belumlah orang dapat memendang kejadian ini dengan penyelidikan yang seksama dan adil. Orang belum kenal percintaan suci yang terdengar sekarang, yang pindah dari mulut ke mulut, ialah bahwa Hayati, kemenakan Dt……..telah ber “intaian” bermain mata, berkirim-kirim surat dengan anak orang Makasar itu. Gunjing, bisik dan desus perkataan yang tak berujung pangkal, pun ratalah dan pindah dari satu mulut ke mulut yang lain, jadi pembicaran dalam kalangan anak muda-muda yang duduk di pelatar lepau petang hari. Hingga akhirnya telah menjadi rahasia umum. Orang-orang perempuan berbisik-bisik di pancuran tempat mandi, kelak bila kelihatan Hayati mandi di sana, mereka pun berbisik dan mendaham, sambil melihat kepadanya dengan sudut muda yang masih belum kawin dalam kampung sangat naik mereka adalah perbuatan demikian merendahkan derajat mereka seakan -akan kampung tak terutama sekali yang dihinakan orang adalah persukuan Hayati, terutama mamaknya sendiri Dt…yang dikatakan buta saja matanya melihat kemenakannya membuat malu, melangkahi kepala ninik –mamak. 198657 Tahap Peningkatan Konflik Konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya. Tahap peningkatan konflik dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka terjadi ketika Zainuddin dan Aziz sama-sama mengirimkan surat kepada orang tua Hayati, dari lamaran kedua pemuda itu, ternyata lamaran Aziz yang diterima karena orang tua Hayati mengetahui latar belakang pemuda yang kaya raya itu, sedangkan lamaran Zainudin ditolak karena orang tua Hayati tidak ingin anaknya bersuamikan orang miskin. Hal ini bisa terlihat dari penggalan cerita berikut ini ”Kalam dia tertolak lantaran dia tidak ber-uang maka ada tersedia uang yang dapat dipergunakan untuk menghadapi gelombang kehidupan sebagai seorang mahluk yang tawakkal.” 1986118 Klimaks Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh tokoh utama yang berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama. Dalam Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, tahap klimaks terjadi ketika Aziz meminta supaya Zainuddin menikahi Hayati. Sekalipun dalam hati Zainuddin masih mencintai Hayati, Zainuddin menolak permintaan Aziz. Bahkan Zainuddin memulamgkan Hayati ke kampung halamannya dengan menggunakan Kapal Van Der Wijck. Hal ini bisa dilihat pada pernyataan berikut “Bila terjadi akan itu, terus dia berkata “Tidak Hayati ! kau mesti pulang kembali ke Padang! Biarkan saya dalam keadaan begini. Pulanglah ke Minangkabau! Janganlah hendak ditumpang hidup saya , orang tak tentu asal ….Negeri Minangkabau beradat !.....Besok hari senin, ada Kapal berangkat dari Surabaya ke Tanjung Periuk, akan terus ke Padang! Kau boleh menumpang dengan kapal itu, ke kampungmu”. 198619 Penyelesaian Tahap penyelasaian dalam Roman Tenggelamya Kapal Van Der Wijck karya Hamka ketika Zainuddin mendapat kabar bahwa Kapal yang ditumpangi Hayati tenggelam, sedangkan Hayati dirawat di Rumah Sakit Tuban. Dengan diterima Muluk sahabatnya Zainuddin menengok wanita yang sangat dicintainya itu. Rupanya pertemuan mereka itu adalah pertemuan yang terakhir karena Hayati menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan Zainuddin. Kejadian itu membuat Zainuddin merasakan penyesalan yang berkepanjangan hingga Zainuddin jatuh sakit dan meninggal dunia. Zainuddin dimakamkan di sebelah makam Hayati. Penokohan/ Perwatakan Pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka terdapat beberapa karakter di antaranya Karakter utama mayor karakter, protagonis adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang palaing banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh karakter utama yang ada dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tokoh Zainuddin, yang memiliki sopan santun dan kebaikan pada semua orang. Sedangkan yang lainnya yang menjadi tokoh protagonisnya adalah tokoh Hayati yang menjadi kekasih Zainuddin. Penggalan cerita yang menunjukkan Zainuddin adalah karakter yang baik adalah “Zainuddin seorang yang terdidik lemah lembut, didikan ahli seni, ahli sya’ir, yang lebih suka mengalah untuk kepentingan orang lain”. 1986 27 Karakter pendukung minor karakter, antagonis sosok tokoh antagonis dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tokoh Aziz, karena tokoh Aziz di sini mempunyai sikap yang kasar dan sering menyakiti istrinya, dan tidak mempunyai tanggung jawab dalam keluarga dan selalu berbuat kejahatan karena sering main judi dan main perempuan. “…..ketika akan meninggalakan rumah itu masih sempat juga Aziz menikamkan kata-kata yang tajam ke sudut hati Hayati…..sial”. 1811986 Karakter pelengkap adalah Muluk dan Mak Base karena keduanya adalah sosok yang bijak dan selalu berada di samping tokoh utama untuk memberi nasehat dan sangat setia menemani tokoh utama sampai akhir cerita Setting/latar Latar dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka berlatar di Mengkasar “Di waktu senja demikian, kota Mengkasar kelihatan hidup hal. 3” Padang Panjang” Bilamana Zainuddin sampai ke Padang Panjang , negeri yang ditujunya, telah di teruskannya ke dusun Batipuh karena menurut keterangan orang setempat, di sanalah negeri ayahnya yang asli hal. 20” Surabaya “ Diberanda subuah rumah makan yang ramai dalam kota Surabaya, sehabis waktu magrib duduklah Zainuddin seorang dirinya hal. 174” Sudut Pandang Pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal karena menyebutkan dan menceritakan secara langsung karakter pelakunya secara gamblang. Penggalan cerita pada roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka sebagai berikut “Mula-mula datang, sangatlah gembira hati Zainuddin telah sampai ke negeri yang selama ini jadi kenang-kenagannya.”1986 26 Gaya Bahasa Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka menggunakan kalimat yang sangat kompleks karena menggunakan bahasa melayu yang baku. Seperti dalam penggalan cerita berikut ini “Lepaskan Mak, jangan bermenung juga,” bagaimana Mamak tidak akan bermenung, bagaimana hati mamak tidak akan berat………..” 1986 22 Amanat Dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka mengandung nilai moral yang tinggi ini terlihat dari para tokoh yang ada seperti Zainuddin. Hal tersebut bisa kita lihat dari panggilan cerita berikut ini “Demikian penghabisan kehidupan orang besar itu. Seorang di antara Pembina yang menegakkan batu pertama dari kemuliaan bangsanya; yang hidup didesak dan dilamun oleh cinta. Dan sampai matipun dalam penuh cinta. Tetapi sungguhpun dia meninggal namun riwayat tanah air tidaklah akan dapat melupakan namanya dan tidaklah akan sanggup menghilangkan jasanya. Karena demikian nasib tiap-tiap orang yang bercita-cita tinggi kesenangannya buat orang lain. Buat dirinya sendiri tidak”. 1986223 Biografi Pengarang HAMKA adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau lahir di Molek, Meninjau, Sumatra Barat, Indonesia pada tanggal 17 Februari 1908. Ayah beliau bernama Syeh Abdul Karim bin Amrullah Haji Rasul. Ketika Hamka berumur 10 tahun ayahnya membangun Thawalib Sumatra di Padang Panjang. Di sana Hamka belajar tentang ilmu agama dan bahasa Arab. Di samping belajar ilmu agama pada ayahnya, Hamka juga belajar pada beberapa ahli Islam yang terkenal seperti Syeh Ibrahim Musa, Syeh Ahmad Rasyid, Sutan Mansyur dan Ki Bagus Hadikusumo. Pada tahun 1927 Hamka menjadi guru agama di Perkebunan Tinggi Medan dan Padang Panjang tahun 1929. tahun 1957-1958 Hamka sebagai dosen di Universitas Islam Jakarta dan Universitas Muhamadiyah Padang Panjang. Hamka tertarik pada beberapa ilmu pengetahuan seperti sastra, sejarah, sosiologi, dan politik. Pada tahun 1928 Hamka menjadi ketua Muhammadiyah di Padang Panjang. Tahun 1929 beliau membangun “Pusat Latihan Pendakwah Muhammadiyah” dua tahun kemudian menjadi ketua Muhammadiyah di Sumatra Barat dan Pada 26 juli 1957 beliau menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia. Hamka sudah menulis beberapa buku seperti Tafsir Al-Azhar 5 jilid dan novel seperti; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di bawah Lindungan Ka’bah, Merantau Ke Deli, Di dalam Lembah Kehidupan dan sebagainya. Hamka memperoleh Doctor Honoris Causa dari Universitas Al- Azhar 1958, Doctor Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia 1974 dan pada 24 juli 1981 Hamka meninggal dunia. BAB III PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil analisis data tentang roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka dapat disimpulkan sebagai berikut 1. Struktur roman terdiri dari tema, alur/plot, setting/latar, sudut pandang, karakter, gaya bahasa, dan amanat, di mana hubungan antar unsur dalam roman ini menunjukkan hubungan yang begitu padu sehinggga menghasilkan jalinan cerita yang sangat menarik. 2. Unsur religiusitas roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka mengandung aspek aqidah, syariah, dan akhlak yang tergambar dalam setiap perilaku tokoh yang dimainkan, di samping itu pengarang sendiri sebagai seorang agamawan yang begitu kental memasukkan unsur–unsur agama ke dalam roman ini Saran Hendaknya dalam menjalani hidup dan kisah percintaan tidak selalu terikat oleh adat yang sangat ketat, yang menyebabkan hubungan antara dua orang yang saling mengasihi terpisah oleh karena masalah adat. Dan bagi orang tua hendaknya tidak memaksakan kehendak terhadap anak- anaknya agar menuruti perintahnya untuk menjodohkan dia dengan pilihan orang tua tersebut. Karena anak juga dapat memilih jalan hidup yang menurut dia itu adalah hal yang terbaik sebagai pilihan hidupnya kelak. . Through his literary work in the form of a novel, Buya Hamka contributed to advancing the education in Indonesia by contributing to his critical thoughts in the novel entitled “The Singking of Van Der Wijck”. The Researcher wants to carry out this research to find out and analyze what character education is contained in the novel “The Singking of Van Der Wijck”. The research method used in this research is descriptive qualitative method, which aims to describe, summarize, phenomena, and situations of social reality that occur in society. Through this method the researcher tries to observe and understand the object of research with the aim and obtaining the meaning of each words, text, sentence and paragraph. The result of this study indicate that Buya Hamka has succeeded in contributing knowledge intelligently and critically inserted into every word, text, sentence and paragraph contained in the novel “The Singking of Van Der Wijck”. It makes the readers have a devout and pious personality and know the values of character education, especially the educational values of teaching Islamic Religious Education. Abstrak. Melalui karya sastra yang berbentuk novel, Buya Hamka, turut berkontribusi dalam memajukan bidang pendidikan di Indonesia. Dengan turut membantu menyumbangkan pemikiran-pemikiran kritisnya dalam novel yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Maka dari itu peneliti ingin mengangkat penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis pendidikan karakter apa saja yang terkandung dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan, fenomena dan situasi realita sosial yang terjadi di masyarakat. Melalui metode ini peneliti berusaha mengamati dan memahami objek penelitian dengan tujuan untuk memperoleh dan mendapatkan makna, arti dari setiap kata, teks, kalimat dan paragraf. Hasil penelitian ini menunjukan bahwasannya, Buya Hamka berhasil memberikan sumbangsih ilmu-ilmu pengetahuan yang dengan cerdas dan kritis disisipkan kedalam setiap kata, teks, kalimat dan paragraf yang terdapat dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Sehingga menjadikan pembacanya memiliki pribadi yang taat dan bertakwa serta mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter terutama nilai-nilai pendidikan pada ajaran agama Islam. To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the has not been able to resolve any citations for this AlifuddinAlhamuddin AlhamuddinNurjannah NurjannahThis article provided an anlytical description of the Muhammadiyah philanthropic movement to the Bajo community in Wakatobi. There were three important points hacked in this study, namely 1. Why did Muhammadiyah choose the domain of education for its philatropical movement in the Bajo community? 2. what was the pattern of Muhammadiyah's educational philanthropic movement in the Bajo community? 3. what was the Bajo community's response to the Muhammadiyah-based pure Islamic education philanthropy movement? Data collection was done through in-depth interviews, observation and documentation. Analyzing data used hermeneutic phenomenology approach. The results showed that the choice of moving in the realm of education by the local Muhammadiyah community was due to the essence of the education movement as a fulcrum for determining the quality of human resources, on the other hand expensive quality education services made most Bajo children to choose to go to sea rather than go to school. The choice of educational philanthrophy by Muhammadiyah was also due to the psycho-social reality of local children who were suspected of "experiencing" an inferiority complex when they interacted with the mainland children's community. The philanthropic movement pattern implemented by the local Muhammadiyah community was based on the philanthropic social movement, namely to form awareness of the local community about the urgency of education for future life continuity by relying on a belief system or religious basis. The smart work of the Muhammadiyah community combined with the positive action approach made the pure Islamic idea could be transformed into the Bajo cultural space through education and teaching in a natural humanistic manner, without causing controversy. Keywords Educational Philanthrophy, Bajo Community, Educational Philanthrophy Movement Alhamuddin AlhamuddinThis study aims to examine how to instruction design to optimize the potential of learners. The result of study showed that the design instruction to optimize the learners needs to do several steps, namely 1 multiple intelligences research; 2 mapping class based on learning style. Furthermore, teachers prepare learning design based on both aspects. Teacher consultation with the supervisor in preparing instructional design based on multiple intelligences, in consultation teacher discusses basic competencies to be taught and strategies in accordance with the tendency of learners in the classroom. The next phase is the observation supervisor in the classroom and the last step is the confirmation. Based on the results of this study, the researchers recommend to teachers to always pay attention and develop the potential that exists within the self-learners early on. Intelligence is not just limited to the intelligence of mathematical logic and language, but also kinesthetic, music, interpersonal, intrapersonal, spatial, and naturalistic intelligence. Pendahuluan Pendidikan dasar merupakan cikal bakal pendidikan yang akan banyak menentukan kualitas pendidikan pada jenjang berikutnya. Keberhasilan menangani masalah pendidikan dasar merupakan langkah strategis untuk membenahi sistem pendidikan pada level selanjutnya dan pada giliranya akan menyentuh sistem pendidikan nasional. Mengingat perannya yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia, maka upaya peningkatan kualitas pembelajaran pada tingkat pendidikan dasar, memerlukan perhatian yang serius. Dekade 1980an, Gardner merumuskan konsep kecerdasan dari hanya terbatas pada yang cerdas logika matematika dan bahasa menjadi musik, kinestetis, intrapersonal, interpersonal, spasial, dan naturalistik. Adanya pengakuan dan penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan individu, tentu akan membawa konsekuensi lebih lanjut, yaitu bahwa pendidikan harus memperhatikan perbedaan-perbedaan dan mengembangkan sejauh mungkin apa yang dimiliki anak itu. Dengan Alhamuddin AlhamuddinThis study aims to describe the curriculum development at elementary school in Russian and Indonesia. This study shows that there are many differences between both countries. Curriculum structure of the basic education in the Russian State has more hours per week than Indonesia's does, but in a year of study time in Russia is shorter than in Indonesia is. Assessment System in Russia learning outcomes serve as the basis of the information to determine the competence of which has been obtained by the learners, not as a measure for grouping students into groups. It is not much different in Indonesia. Pendahuluan Secara umum, hakekat pendidikan diartikan sebagai upaya mengembangkan kualitas pribadi manusia dan membangun karakter bangsa yang dilandasi oleh nilai-nilai agama, filsafat, psikologi, sosial budaya, dan iptek yang bermuara pada pembentukan pribadi manusia bermoral dan berakhlak mulia dan berbudi luhur. Pendidikan diartikan juga sebagai upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia SDM yang memiliki idealisme nasional dan keunggulan profesional,serta kompetensi yang dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa dan Negara. Setiap bangsa memiliki sistem pendidikan. Dengan sistem pendidikan tersebut, suatu bangsa mampu mewariskan segala pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan sikap, agama dan ciri-ciri watak khusus yang dimilikinya dengan cara tertentu kepada generasi penerus, agar nantinya, mereka dapat mewariskannya dengan sebaik-baiknya. Melalui sitem pendidikan itu, suatu bangsa dapat memelihara dan mempertahankan nilai-nilai luhur, serta keunggulan-keunggulan mereka dari generasi ke generasi. Sejalan dengan tumbuhnya ilmu-ilmu sosial pada akhir abad 19 yang dalam perkembangan pesatnya kemudian tertuju perhatiannya pada pengakuan adanya hubungan yang dinamis antara pendidikan dengan masyarakat atau negara tertentu. Pendidikan dipandang sebagai cerminan dari suatu masyarakat atau bangsa, dan sebaliknya suatu masyarakat atau bangsa dibentuk oleh sistem pendidikannya. Alhamuddin Alhamuddinp>This paper is an academic effort to explain some aspects of the concept of Islamic education thought Syaikh Abd al-Samad Palimbani 1714-1782 M. As a descriptive qualitative study, the main data in this study were obtained from a number of his works, especially from kitab Hidayah al-Sālikin . It’s contrast to the others previous scholars’ contemporaries, Hidayah al-Sālikin is unique work of Abd Shamad, especially in his approach. In these works Abd Shamad attempted to explain jurisprudent aspects using Sufism approach. This research analyses some aspects of Abd Shamad’s concept of Islamic education thoughts. According to him, Islamic education aims are to produce a good human being and to achieve happiness by getting close to God. Based on the conducted research, some recommendations for further researcher, it is suggested to investigate this issue more specifically and comprehensively.

analisis novel tenggelamnya kapal van der wijck